Home    About Us    Our Services    Strategic Partner    Project References    Career    Contact Us   
  NEWS  
 

 

  Sebuah refleksi Diri


Oleh : Adriyono Nugroho 
Dept. Head of Project Management


Kata kunci dari judul diatas adalah kata-kata yang sederhana dan hampir setiap hari kita dengar, namun mungkin kurang mendapat perhatian. Selalu menjadi prioritas akhir dan mudah untuk dikesampingkan.

Dua kutub yang saling berseberangan akan mempunyai sinergi jika bertemu bagai dua sisi satu keping uang. Dua sisi tersebut yakni Kompetensi dan Kepuasan Pelanggan. Adalah tepat rasanya disaat industri mulai kurang bersemangat, refleksi diri atas dua sisi itu dapat menjadi kunci semangat dalam menghadapi krisis yang sedang berlangsung. Tidak banyak waktu yang dapat digunakan untuk mempersiapkan diri lebih baik menghadapi kompetisi pada klimaks nanti.

KOMPETENSI
Pada awalnya pengertian "kompeten" secara harfiah adalah kewenangan. Pengertian seperti ini dipakai untuk semisal pejabat yang berkompeten ialah pejabat yang berwenang atau yang mempunyai otoritas. Namun sesuai dengan perkembangan jaman, pengertian ini mulai merujuk bahwa kompetensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan tugas yang terdiri terdiri atas dua unsur yaitu kemampuan teknis dan kewenangan itu sendiri. Dalam suatu organisasi/perusahaan yang sistematis, setiap bagian manajemen haruslah mempunyai gambaran kerja (job description) termasuk tugas, tanggung jawab dan kewenangannya. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari tumpang tindih dengan bagian manajemen lainnya.

KEMAMPUAN
Kemampuan SDM dalam dunia konsultansi mempunyai pengaruh yang sangat besar. Kemampuan SDM dipengaruhi latar belakang pendidikan dan lamanya pengalaman yang spesifik. Secara sederhana penggolongan SDM tersebut berdasarkan peringkat kompetensi, yaitu :

1. Karyawan Baru, yaitu SDM yang baru pertama kali bekerja, hanya berbekal pengetahuan formal     dengan sedikit keterampilan. Maka tingkat kompetensinya belum dapat berproduksi/bekerja, harus     diberikan latihan langsung dan on the job training.
2. Karyawan Pemula, yaitu SDM yang sudah mulai bisa bekerja, tetapi tetap disupervisi dan     berpedoman pada buku petunjuk. Jadi belum kompeten juga.
3. Karyawan Kompeten yakni SDM yang telah berproduksi dengan pengawasan yang minim dari     atasannya. Karyawan kompeten sudah mulai dapat diandalkan.
4. Karyawan Profesional : adalah SDM yang sudah sangat kompeten sehingga dapat bekerja dengan     memuaskan dan bahkan bisa membuat buku petunjuk (PQS) sendiri.
5. Ahli atau Expert : adalah profesional yang sudah mengabdikan dirinya untuk suatu keahlian profesi.     Dalam beberapa standarisasi profesi, penggolongan lebih rinci terdiri dari Ahlli Muda, Ahli Madya dan     Ahli Utama.


Kewenangan
Pendelegasian wewenang sesuai dengan Level of Quality Management kepada staff sub-ordinate, secara praktis dapat dikategorikan dalam 4 kemungkinan yaitu:

1. Staff Kompeten, yaitu dengan kemampuan yang dimiliki dan diberikan kewenangan yang terkendali     dapat berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya hingga tuntas.
2. Staff Impoten, yaitu dengan diberikan kewenangan yang jelas namun tidak dapat membereskan     pekerjaanya karena keterbatsan kemampuan.
3. Staff Terpasung, yaitu berkemampuan tepat tetapi tidak diberikan kewenangan hingga berakibat     tidak selesainya pekerjaan.
4. Staff yang Korup, yaitu mempunyai kemampuan namun menyalahgunakan wewenangnya untuk     keuntungan diri sendiri atau golongan. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertamai jikalau     mempunyai kemampuan maka pekerjaannya akan selesai dengan biaya yang tinggi. Kemungkinan     kedua yaitu jika tidak mempunyai kemampuan hingga pekerjaannya tidak selesai dengan biaya yang      tetap tinggi.
    Dalam perekrutan staf dapat dilakukan proses “Fit and Proper Test” (Uji kelayakan dan kepatutan).     'Layak' diartikan bahwa kandidat mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan tugas sesuai     posisinyanya dan 'Patut' diartikan bahwa moralnya menjamin tidak akan menyalahgunakan     wewenang yang diberikan kepadanya.


Pentingnya Mengukur Kompetensi Diri

Inti dalam QMS ISO 9001 2000 adalah mengajak untuk berpikir dengan menggunakan konsep “Pengelolaan Tujuan” (Management By Objective) guna meraih kepuasan Pelanggan yang diawali dari menetapkan Target atau Sasaran saat penandatanganan kontrak, menyusun rangkaian tugas, kemudian mengelola implementasi proyek dengan menyiapkan tim/organisasi kerja yang kompeten. Hal ini bertujuan untuk mencapai Target atau Sasaran sehingga memuaskan pelanggan, jika dimungkinkan mekanisme ini dapat berlangsung lebih cepat dengan kualitas yang sesuai dengan lingkup serta budget yang terkontrol dengan benar. Bukan hanya sebuah semboyan belaka, namun komitmen “awareness” dari seluruh komponen perusahaan mulai dari staf, Board of Management hingga Board of Directors harus terlaksana dan terkendali dengan baik.

Pengukuran kompetensi dapat dilihat dari berbagai aspek yakni dimulai dari ukuran ideal organisasi (right sizing organization), sistem yang dipakai, prosedur ijin yang diikuti, pelaksana sistem yang tepat serta fasilitas dan piranti penunjang yang digunakan. Pengukuran ini lebih tepat disebut evaluasi refleksi diri untuk mempersiapkan diri sesuai dengan kebutuhan kompetisi. Evaluasi ini dilaksanakan secara berkala guna mendapatkan umpan balik dari hasil perbaikan yang berkesinambungan (sustainable improvement).

KEPUASAN PELANGGAN

Mengukur kepuasan pelanggan atau klien untuk ukuran industri konstruksi biasanya dilakukan di akhir proyek. Di beberapa konsultan konvesional, hal ini adalah pekerjaan yang rutin dan amanah dari prosedur internal. Hipotesa awal memperlihatkan bagaimana konsultan konvensional tadi menjadi konsultan modern yang dapat mengukur proyeksi kepuasan pelanggan dengan meyakinkan bahwa selain proyek dapat di ”delivery” dalam tatanan Scope, Time, Cost dan Quality, Pelanggan juga mendapatkan layanan yang berbeda dengan harga yang kompetitif ! Bahkan diawal proyek, konsultan yang modern telah dapat memprediksi hasil ukuran tingkat kepuasan pelanggannya sebelum proyek berakhir.

Tujuan Layanan Yang Berbeda

Apa perlunya membuat perbedaan dari kompetitor kita ? Sebuah conventional corporate tentu akan berpikir bahwa hal ini akan membuang waktu dan biaya, no use ! Namun modern corporate yang harus tetap survive (bertahan), melakukan pekerjaan yang specific (khusus/khas) dan sustain (berkelanjutan), segera berpikir berbeda. Disini saja mereka telah memenangi peperangan sekalipun perang itu belum dimulai. Mereka harus dapat melakukan perbedaan di segala aspek pelayanannya.

Sebuah layanan Manajemen Proyek sedianya harus mempunyai yang bermanfaat dimana pelanggan akan berpikir bahwa dengan sesuai dengan anggaran yang ditetapkan mendapatkan layanan tambah tentu pula akan mendapatkan nilai tambah (added value) untuk pelaksanaan proyek.

Memberikan Layanan yang Berbeda

Mengutip satu tajuk tulisan dari Hermawan Kartawijaya, dikatakan bahwa efek snowball dari pemasaran yang berkelanjutan (sustainable marketing) menghasilkan tiga hal yang sangat berpengaruh. Tentunya industri konstruksi dapat menerapkan strategi ini untuk menghadapi persaingan yang akan semakin sengit. Tiga hal tersebut adalah PDB yang tentunya tidak asing kita dengar yakni Positioning, Differentiation, dan Brand. Dari pengalaman yang telah ada, poin 1 dan poin 3 telah terbentuk dengan sendirinya dimana pelaku pengguna industri konstruksi telah mengenal PROSYS secara cermat. Evaluasi singkat menunjukkan bahwa posisi PROSYS saat ini memegang peranan yang cukup penting di bidang manajemen proyek konsultansi. Hal ini ditambah dengan brand image yang cukup dikenal (reputable). Namun apakah poin ke 2 telah PROSYS miliki dan dapatkah terus mampu bersaing ?

Perbedaan yang harus diberikan intinya adalah Pelayanan yang berbeda kepada setiap klien. Beberapa cara konvensional harus tetap diterapkan, akan tetapi dengan memberikan different services yang bersifat tangible dapat menjadi terobosan dan membuat perbedaan dengan pesaing. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah layanan unggul apakah yang dapat diberikan sehingga klien dapat merasakan manfaatnya serta sekaligus mempunyai nilai yang berbeda dengan pesaing yang ada ?


Proses peningkatan layanan yang berbeda secara umum digolongkan dalam dua hal yakni Intensification Process dan Extensification Process. Proses pertama menitikberatkan pada peningkatan kapasitas internal manajemen agar lebih efisien dan efektif. Proses ini pada umumnya lebih dikenal dengan istilah Pengembangan Organisasi (Organisational Development). Banyak program yang dapat dijalankan berkaitan dengan hal ini. Penekanan diberikan pada aspek pengembangan yang secara prinsip lebih bersifat kualitas dibandingkan dengan ukuran kuantitas. Berikut beberapa program pengembangan organisasi yang dapat dilakukan :

• Dengan lebih memberdayakan kemampuan (revitalize sources) internal perusahaan yang dikelola dengan cara yang efisiensi dan efektifitas yang ketat disemua aspek. Manajemen berkepentingan mengendalikan program ini agar tidak terjadi demotivasi di kalangan subordinat. Disisi lain pengetatan juga dimaksudkan agar pemberdayaan kemampuan internal dijalankan secara terkendali dengan tidak mengurangi kepentingan yang memang harus tetap dijalankan (priorities), namun lebih kepada efektifitas bersama. Sebagai contoh penerapan pengukuran layanan mulai dari tingkat terendah, manajemen hingga pemilik proyek dengan menggunakan sistem Service Level Agreement. Pelanggan akan melihat bahwa mereka berhasil memilih perusahaan yang modern dan dinamis.

• Penerapan baku atas prosedur manual manajemen yang terakreditasi (ISO) dan implementasi yang teraudit dan perbaikan yang terus menerus (continuous improvement) adalah bagian dari pembudayaan atas rangkaian kerja yang sistematis. Dampak yang menonjol dari usaha ini adalah peningkatan citra perusahaan (corporate image) dari waktu ke waktu. Dengan dijalankannya prosedur oleh siapapun yang melaksanakannya, Pelanggan akan tetap membaca bahwa perusahaan ini adalah yang commit, capable dan consistent. Pada proses kedua (Extensification Process) menegaskan adanya perluasan area produk layanan yakni program rekayasa (engineering) yang bermanfaat guna. Dibawah ini adalah beberapa contoh yang menggambarkan proses kedua tersebut :

¤ Pengembangan database atas seluruh data dan “intellectual right” (HAKI)
¤ Hasil atas produk rekayasa untuk layanan (different engineering product)
¤ Pengukuran atas kinerja dan pembinaan profesional yang terprogram melalui KPI, Balance Score Card    dan lain-lain, yang akan meningkatkan kemampuan para engineer.
¤ Pola dokumentasi audio-video sebuah proyek dari awal hingga akhir serta catatan kejadian akan    menarik untuk dijadikan referensi bagi semua kalangan, dan dapat dijual atas HAKI tersebut !

Setelah dimulainya seluruh rangkaian rencana tersebut, potensial klien layak untuk diinformasikan secara persuasif. Dengan mengecualikan kriteria aspek komersial/keuangan dalam proses tender atau pemilihan (beauty contest), sudah dapat diyakinkan bahwa konsultan yang menerapkan hal ini akan mempunyai keunggulan tersendiri. Kesimpulan sementara yakni bahwa Difference in Quality is a must ! dalam memberikan layanan yang berbeda kepada klien.

Kompetensi dan Kepuasan Pelanggan saat Krisis Global

Krisis keuangan global yang sedang terjadi saat ini berdampak pula pada industri konstruksi. Banyak pemilik proyek yang melakukan slow-down hingga pemberhentian sementara (temporary termination) proyek. Disatu sisi, konsultan pelaksana tentu melakukan hal yang sama dan berujung pada kerugian yang signifikan. Namun disisi yang lain, dengan berpikir positif tentu menjadikan situasi ini sebagai saat yang tepat untuk merapatkan barisan guna mempersiapkan kompetensi dan nilai keunggulan yang berbeda dari para pesaing. Hal ini bertujuan mempertahankan eksistensi industri dengan pencapaian kepuasan pelanggan. Dampak umumnya yakni berjalannya “snow-ball effect” untuk aspek pemasaran.

Semoga kajian singkat ini bermanfaat untuk kemajuan bersama. Terima kasih !

______________________________________________________________________________________

« back