Home    About Us    Our Services    Strategic Partner    Project References    Career    Contact Us   
  NEWS  
 


Mengenal XPM
eXtreme Project Management


Oleh : Erwien Nurwihatman, S.Si, M.Kom
Senior Business Consultant PT Prosys Bangun Persada dan
Dosen Bina Nusantara International The Joseph Wibowo Center (JWC)
Email: ewien@yahoo.com


Perkembangan dunia manajemen proyek saat ini cenderung berubah dengan cepat dan radikal. XPM atau eXtreme Project Management memberikan kita cara pandang baru dalam memandang sebuah proyek yang memiliki karakter lebih lincah, fleksibel dan lebih cerdas dibandingkan dengan Manajemen proyek tradisional atau Traditional Project Management (TPM). Radikal berarti segalanya terus berubah dan selalu baru.
Dalam tulisan ini akan disajikan pengenalan manajemen proyek radikal yang populer dengan istilah XPM (eXtreme Project Management) dari awal hingga akhir beserta dengan perangkat-perangkat dan teknik yang diperlukan dalam menjalankan proyek di sebuah organisasi.

Pendahuluan
Manajemen proyek tradisional ( TPM ) adalah bagaimana kita mengendalikan sebuah proyek yang diketahui (known) sedangkan Manajemen proyek eXtreme (XPM) adalah sebuah pengendalian proyek yang tidak diketahui (unknown). TPM memiliki sifat yang lambat dan stabil karena sangat bergantung dari perencanaan yang telah dibuat dengan matang sebelumnya. XPM lebih chaotic, messy dan unpredictable; sehingga speed dan inovasi diperlukan beserta dengan perencanaan chaotic yang just-in-time.

XPM juga memerlukan quantum mind-set baru dalam memandang sebuah proyek supaya proyek bisa terlaksana dengan sukses, yaitu bagaimana kita mempercayai dunia akan bekerja berdasarkan asumsi-asumsi yang dibuat. Quantum mind-set berdasarkan pada realitas bahwa perubahan adalah sebuah norma, sebaliknya Newtonian mind-set berdasarkan kepada kepercayaan bahwa stabilitas adalah sebuah norma. Jadi bisa kita katakan bahwa XPM adalah sebuah kendaraan bagaimana Quantum mind-set tersebut bisa bekerja. ( Adaptability is more important than Predictability )

Sebuah contoh yang sangat jelas dari dari sebuah eXtreme Project adalah :

• Requirement proyek berganti terus di setiap malam

• Proyek tersebut melibatkan sebuah teknologi baru dengan metodologi baru, dimana belum pernah   ada yang mencoba sebelumnya, sehingga belum ada pelajaran atau studi kasus yang bisa   didapatkankan sebelumnya

• Waktu deadline-nya hanya setengah dari waktu normal proyek

• Kualitas di setiap prosesnya hampir tidak pernah ada waktu berlangsungnya proyek

• Setelah setengah jalan dari waktu pelaksanaan proyek, customer secara mendadak memutuskan    keinginan atau ekspektasi yang berbeda

• Suasana dan lingkungan proyek yang chaotic dan tidak dapat diprediksi sebelumnya , selalu    berubah-ubah dengan pola yang eXtreme.

Konsep Manajemen Proyek eXtreme

Bagi Manajer Proyek yang sedang menghadapi sekian banyak proyek atau proyek yang terus menerus berubah-ubah setiap hari, atau tidak memiliki sumber daya atau orang-orang yang berkemampuan memadai, dan tidak memiliki waktu atau uang yang mencukupi, maka manajemen proyek eXtreme adalah cara yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut

Manajemen proyek sampai sekarang ini sudah berevolusi melalui 4 tahap : 1. Gelombang Pertama- Awal ( 1950 1970), 2. Gelombang Kedua Rekayasa (1970 Sekarang), 3.Gelombang Ketiga Dinamika ( 1980 Sekarang ), 4.Gelombang Keempat eXtreme (1990 - ).

Berdasarkan statistik dalam kurun 25 tahun terakhir mayoritas perusahaan masih menggunakan praktek-praktek manjamen proyek gelombang kedua. Proyek-proyek perekayasaan mendapat justifikasi melalui analisis biaya manfaat sekedarnya tidak ada realisasi manfaat yang efektif. Peran Manajemen Senior terlibat dalam Komite Pengarah ala kadarnya TI tetap dipercaya sebagai ”ilmuwan” atau ”pakar”.

Peran Pakar Bisnis memiliki keterlibatan ala kadarnya sebagai analis bisnis dan sebagai pelaksana kegiatan pengujian serta pendokumentasian Beberapa manajer proyek bisnis yang hanya memiliki sedikit dukungan dan pelatihan. Fokus Manajemen merupakan fokus berkelanjutan pada kegiatan-kegiatan pengembangan saja Pengukuran formal tercatat dalam catatan produktivitas pengembangan. Struktur Tim merupakan tim tunggal dengan pemimpin teknik dan pakar-pakar teknik yang berkaitan yang domininan, seperti pakar database. Pendekatan Perencanaan bersifat makro yang didasarkan pada konsep-konsep perekayasaan seperti hanya ada satu perencanaan, dengan spesifikasi di muka yang tetap dan formal. Dinamika Proyek ditentukan oleh pakar, di mana para spesialis TI dan lainnya membuat anggaran dan teknologi.

Pada manajemen proyek eXtreme atau Gelombang Keempat (1990 - ) . Justifikasi Proyek sepenuhnya berfokus pada nilai tambah dan realisasi manfaat. Peran Manajemen Senior sebagai manajer eksekutif proyek untuk keseluruhan siklus hidup produk atau sistem. Peran Pakar Bisnis dan tim teknologi telah benar-benar terintegrasi. Fokus Manajemen akan fokus pada keseluruhan siklus hidup produk dengan proses yang terintegrasi dan terdapat pengukuran. Struktur Tim merupakan tim virtual di dalam organisasi virtual yang didasarkan pada kemitraan dan jaringan. Pendekatan Perencanaan bersifat organik dengan rencana mikro dan siklus pengembangan yang sangat pendek ( dibuat harian). Dinamika Proyek semakin ditentukan oleh kendala, tetapi diimbangi dengan pertimbangan tingkat pengembalian investasi ( ROI).
     

Manajemen proyek eXtreme dengan nilai-nilai : 1. Partisipatif, 2.Proaktif, 3. Terbuka, 4. Berorientasi-keluar, 5.Saling mempercayai, maka ada beberapa konsep XPM radikal yang perlu kita ketahui bersama :

• Manajemen proyek eXtreme sama sekali berbeda dari manajemen teknik

• Konteks jauh lebih penting daripada isi

• Manajemen proyek eXtreme terjadi sepanjang masa

• Manajer proyek bertindak lebih sebagai fasilitator dan integrator daripada sebagai manajer proyek   yang berorientasi teknis
• Manajer senior bertindak sebagai manajer eksekutif proyek

• Perencanaan skenario, bukan perencanaan makro

• Perencanaan cepat yang bersifat partisipatif

• Tim virtual, bukannya tim tradisional

Manajemen proyek yang efektif membutuhkan keseimbangan dan keterpaduan antara isi ( penyampaian-hasil teknis, tugas, dinamika internal ) dan konteks ( manajerial, politik, lingkungan sosial) dari proyek. Perbedaan yang menyolok antara manajemen proyek tradisional dan manajemen proyek eXtreme adalah bahwa manajemen proyek tradisional berfokus ke bawah dan ke dalam, yaitu ke tim dan konteks teknis proyek. Manajemen proyek eXtreme berfokus ke luar dan ke atas, yaitu ke stakeholder, sponsor proyek, dan hubungan yang rumit antara proyek dan stakeholder.

      

Manajemen proyek eXtreme mengadopsi perspektif sepanjang masa. Berbeda dengan manajemen proyek tradisional, dimana selama pengembangan proyek, mulai dari studi kelayakan hingga implementasi, pencatatan biaya, durasi dan kegiatan, serta pelaporan setelah pasca implementasi kaji ulang, mekanisme penelusuran dan pelaporan akan dihentikan ketika proyek selesai. Sebaliknya fokus manajemen proyek eXtreme lebih memberi perspektif dalam Kaji-Ulang Pasca-impelementasi dan Kaji-Ulang Realisasi Manfaat.

Perangkat-perangkat Manajemen Proyek eXtreme

Pada awal tahun 1980-an, AT&T bereksperimen di bidang teknik analisis dan perancangan system yang dinamakan FAST. Teknik itu mencakup analisis dan perancangan sistem informasi dengan menggunakan para klien kunci dan pakar analisis sistem. Melalui ”tukar pikiran atau brainstorming” dalam sesi (pelatihan) tim yang intensif (biasanya kurang dari lima hari), waktu penyelesaian proses analisis dan perancangan sistem dapat dipersingkat secara dramatis dengan kualitas yang lebih baik. Di bidang TI, teknik FAST semakin dikenal luas sebagai perencanaan permintaan bersama atau joint requirement planning (JRP) dan perancangan aplikasi bersama atau joint application design (JAD). Teknik-teknik yang digerakkan oleh tim itu, bersama dengan bantuan komputer secara terpadu atau integrated computer-aided software engineering ( ICASE) tools, dinamakan pengembangan aplikasi secara cepat (rapid application development). Pengambaran yang sangat baik mengenai pendekatan pengembangan itu dapat ditemukan pada buku yang ditulis Chris Meyers (1993), yaitu Fast Cycle Development dan buku yang sangat bagus karya Steve McConnell (1996), yaitu Rapid Development.

Teknik serupa telah diterapkan ke pendekatan baru perencanaan strategis yang dikembangkan oleh Jacobs dan lainnya (1994), yakni banyak orang terlibat dalam penyusunan perencanaan strategis ” dari bawah ke atas” dengan menggunakan proses partisipasi. Konsep manajemen yang digerakkan oleh tim ini yang menghasilkan proses sesi (pelatihan) yang dikenal sebagai Perencanaan Cepat ( Rapid Planning, RAP). RAP saat ini digunakan sebagai salah satu perangkat populer dalam pendekatan manajemen proyek eXtreme. Pengalaman menunjukkan bahwa dengan pendekatan sesi RAP dapat mengurangi waktu pembuatan rencana proyek, meningkatkan akurasi rencana, dan menjamin bahwa seluruh stakeholder kunci dan penyedia jasa diajak berkonsultasi dan dilibatkan sebelum rencana tersebut ”dilanjutkan, padahal seharusnya tidak”.

Dengan menggunakan pendekatan manajemen proyek tradisional, untuk proyek kecil yang melibatkan 10 stakeholder kunci pengkaji-ulang rencana, kaji-ulang dan persetujuan proyek membutuhkan waktu satu bulan penuh. Sesi RAP untuk proyek serupa dapat diselesaikan dalam waktu satu atau dua hari!

Kesimpulannya, perencanaan proyek tidak boleh dibuat oleh satu orang, para stakeholder harus dilibatkan secara aktif, dan jangan membuat rencana yang tidak sesuai dengan apa yang telah diprediksi.

Penutup

Beberapa proyek-proyek yang terjadi saat ini bisa dijalankan dengan Traditional Project Management ( TPM ), dengan syarat proyek-proyek tersebut tidak berubah-ubah terus menerus.

Pada kenyataannya hampir semua proyek-proyek yang ada saat ini berada dalam chaotic environment. Extreme Project Management ( XPM ) lebih merupakan sebuah mindset baru dan bukan sebuah proses yang baru dalam Manajemen Proyek. XPM memerlukan kedekatan komunikasi dengan sponsor dan keterlibatan sponsor.

XPM bisa dianalogikan sebagai musik beraliran Jazz dimana untuk pendengar tertentu Jazz akan didengar lebih chaotic dan random, padahal sesungguhnya tidak. Musik Jazz memiliki framework dimana musisi bisa berimporvisasi dengannya. Sedangkan TPM sendiri bisa dianalogikan dengan musik Classic dimana musik tersebut ada harmonisasi, keteraturan dan terarah. Kuncinya adalah bahwa Anda harus menjadi pemain yang brilian supaya dapat berimprovisasi secara efektif. Hal yang sama juga terjadi pada tim yang kreatif: Anda memerlukan orang terbaik supaya model eXtreme bisa bekerja. (It's Jazz, not Classical Music ?ENU)

* Article Source : Thomset, Rob: Radical Project Management, Prentice Hall, Upper Saddle River, 2002.

« back
___________________________________________________________________________________________________________________