Kenali
Faktor-faktor Non Value-Adding Activities
yang Pengaruhi Kinerja Proyek EPC
(Engineering, Procurement &
Construction)
|
|
| |
Oleh
:
Ivan Yoga Putra
VP Engineering & Construction
PT. Prosys Bangun Persada |
Pendahuluan
Berawal
dari kesadaran pentingnya pemahaman terminologi Non Value-Adding
Activities (NVAA) bagi para pelaku bisnis dan pekerja
di dunia konstruksi Indonesia maka penulis sengaja mengulas
kembali terminologi ini dengan mengambil sumber dari makalah
seminar di UI pada Th.2002. Walaupun sudah dibahas hampir
6 tahun yang lalu, namun tema makalah ini masih valid
dikaitkan dengan situasi proyek sekarang. Perlu diketahui
bahwa terminologi ini telah digunakan secara luas di dalam
literatur oleh para peneliti dalam membahas lean production.(kegiatan
operasional dengan mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak
perlu & dapat menimbulkan pemborosan (waste).).
Sebelum
pembahasan NVAA lebih lanjut, perlu dipahami bahwa terminologi
NVAA digolongkan sebagai waste dan didefinisikan sebagai
aktifitas yang mengeluarkan waktu, biaya
dan sumber daya tetapi tidak memberikan nilai tambah pada
produk akhir?? Ref.: (Alarcon, 1994), (Koskela, 1992)
& Love et al. (1997) dan Physical Construction Waste
didefinisikan sebagai pemborosan bersifat fisik
yang tidak memberikan nilai tambah pada produk akhir,
seperti: pemborosan material di site (pembelian material
yang berlebih), overmanning (tenaga kerja berlebih), dll.
Selanjutnya
akan dibahas mengenai penggunaan NVAA untuk membedakan
antara physical construction waste yang ditemukan di site
dengan waste lain yang terjadi selama proses konstruksi,
dimana NVAA yang dikenal sebagai waste, memiliki sifat
yang tidak memberikan nilai tambah namun dapat mempengaruhi
kinerja proyek konstruksi.
Produktivitas di industri konstruksi Indonesia tidak hanya
dipengaruhi oleh “labour”, tetapi juga oleh
faktor-faktor lain seperti “equipment”, material,
construction methods, dan site management. Beberapa konsep
seperti Total Quality Management (TQM) dan Total Quality
Control (TQC) telah diterapkan untuk mencapai produktivitas
yang lebih baik. Sejak publikasi standar ISO 9000 di tahun
1987 oleh Internal Organization for Standardisation (ISO)
9000, manajemen kualitas mendapat perhatian yang luas.
Oleh
karena itu tujuan makalah ini untuk melakukan identifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja proyek EPC melalui
penelitian NVAA selama proses konstruksi. Evaluasi
kinerja telah menjadi tantangan bagi industri konstruksi
dalam dasawarsa terakhir. Beberapa model dan
prosedur telah diusulkan untuk mengevaluasi dan mengukur
kinerja proyek. Tetapi sebagian besar prosedur tersebut
memiliki keterbatasan atau kendala sendiri-sendiri dalam
menganalisis/mengukur kinerja proyek, seperti keterbatasan
mengukur dalam hal biaya, jadwal atau produktivitas tenaga
kerja (Alarcon, 1994).
Latar
Belakang
Proyek-proyek
konstruksi merupakan prioritas yang sangat penting di
dalam pembangunan nasional Indonesia dimana kontraktor-kontraktor
lokal berpartisipasi di proyek-proyek konstruksi pengembangan
publik termasuk infrastruktur dalam skala besar seperti:
pelabuhan udara/laut, terminal, jalan raya, telekomunikasi,
irigasi, waste disposal & treatment; properti; public
housing; dan bangunan-bangunan industri. Laporan Bank
Dunia (1984) dalam buku “The Construction Industry”
menyimpulkan bahwa akibat keterbatasan keterampilan
dan sumber daya di negara-negara berkembang, maka proyek
dengan skala besar dimenangkan oleh kontraktor asing.
Problem-problem lain diidentifikasikan dalam laporan tersebut
termasuk kekurangan equipment, tidak efisien dalam penggunaan
material, struktur organisasi yang tidak seimbang, kompetisi
yang tidak adil, dana yang terbatas, perencanaan yang
tidak pasti dan kekurangan pengembangan sumber daya manusia.
Ternyata problem-problem ini juga dialami oleh industri
konstruksi Indonesia.
Di
Indonesia, penelitian sekarang lebih dititikberatkan pada
waste materials di site (Alwi, 1995). Bagaimanapun, berdasarkan
investigasi awal, sekarang terdapat perhatian yang lebih
tinggi pada NVAA di industri konstruksi Indonesia (Alwi,
1995). Pada saat ini tidak ada metode yang akurat untuk
dikembangkan guna mengidentifikasi faktor-faktor NVAA
dan menentukan jumlah pasti dari akibat negatif NVAA.
Pencegahan terjadinya waste harus dimulai sejak awal proyek.
Tidak ada praktek dan metode yang dapat diterima dan telah
disetujui di atas oleh semua pihak yang terlibat di dalam
proyek konstruksi untuk menghilangkan tingkat waste. Pada
beberapa proyek konstruksi di Indonesia, tingkat NVAA
adalah signifikan meliputi seluruh proses konstruksi baik
pelakunya, aktivitas dan fasilitas-fasilitasnya. Pada
kenyataannya, NVAA atau waste terjadi pada seluruh industri
konstruksi, terlepas dari:
- Ukuran organisasi,
- Nilai dan durasi kontrak,
- Tipe bangunan, atau
- Sifat bangunan (bangunan baru atau maintenance)
Ukuran
kinerja untuk proyek konstruksi merupakan problem yang
kompleks. Masing-masing proyek adalah unique dalam hal
spesifikasi desain, metode konstruksi, administrasi, dan
pihak-pihak yang terlibat. Jika faktor terpenting yang
mempengaruhi kinerja kontraktor dapat diidentifikasikan,
maka pengukuran dapat diaplikasikan untuk meningkatkan
kinerja kontraktor (Ofori dan Chan, 2001).
Non Value-Adding Activities
Penelitian
ini mengaplikasikan konsep lean production pada industri
konstruksi Indonesia dalam membimbing manajer mengidentifikasikan
kejadian dari NVAA. Konsep lean production berasal dari
industri manufaktur dan dipopulerkan dalam buku “The
Machine That Changed The World: The Story of Lean Production”
(Womack et al., 1991), yang memuat cara untuk mencapai
teknologi dan keuntungan yang kompetitif di industri manufacture
automobile.
Selama
2 (dua) dekade terakhir, industri manufaktur mencapai
perbaikan besar di dalam produktivitas, sementara produktivitas
industri konstruksi relatif stagnant (Lee et al. 1999).
Faktor terpenting dalam pencapaian ini adalah industri
manufaktur mengadopsi filosofi produksi dari lean production
(Koskela, 1994). Menurut Koskela, inti dari filosofi ini
adalah di dalam observasi yang meliputi 2 (dua) aspek
pada semua sistem produksi: Conversions dan Flows. Conversions
diidentifikasikan sebagai Value-Adding Activities (VAA),
sedangkan flows sebagai NVAA. Koskela menjelaskan VAA
sebagai sesuatu yang merubah material dan atau informasi
menjadi sesuatu yang diminta customer. Sedangkan NVAA
adalah sesuatu yang memerlukan waktu, sumber daya, atau
biaya tetapi tidak memberi nilai tambah pada produk akhir.
Waste
di Industri Konstruksi
Akibat
potensial dari aplikasi filosofi lean production pada
efektifitas konstruksi adalah dokumentasi yang baik (Koskela,
1992; 2000). Tetapi Manajer Konstruksi sering gagal mengidentifikasikan
waste dalam proses konstruksi. Salah satu alasan
mengapa waste tidak dikenal dengan baik adalah ketiadaan
alat yang tepat untuk mengukur waste (Lee et
al., 1999).
Saat
ini tidak ada percobaan yang telah dibuat untuk mengobservasi
secara sistematis semua bentuk waste dalam proses konstruksi
(Koskela, 1994). Tetapi beberapa penelitian telah menginvestigasi
secara spesifik area-area dari waste dan dasar penyebabnya.
Serpell et al. (1995) mengatakan bahwa di dalam sebagian
besar kasus, Manajer Konstruksi tidak mengetahui dan atau
mengenal faktor-faktor yang menghasilkan waste, mereka
tidak pernah melakukan pengukuran pada kinerja mereka
sendiri. Sebagian besar faktor juga tidak dapat diobservasi.
Identifikasi dari faktor-faktor ini, penyebab-penyebabnya,
dan ukuran tingkat kepentingan mereka, akan menyediakan
informasi yang yang berguna yang akan memberi masukan
kepada manajemen untuk bertindak mengurangi efek-efek
negatif lebih lanjut. Koskela (1992) menyatakan bahwa
jika aspek flow di dalam proses konstruksi dikesampingkan
oleh pelaku proyek, maka proyek konstruksi akan menemui
jumlah yang berarti dari waste dan akan banyak kehilangan
value. Bukti-bukti kuat dari faktor-faktor yang menghasilkan
waste dan kehilangan value di industri konstruksi ini
ada di beberapa negara (Koskela, 2000).
Metodologi
Obyektifitas
penelitian ini dilakukan dengan survei melalui kuesioner
yang diikuti dengan wawancara dengan personel yang bekerja,
baik pada level manajemen maupun operasional di dalam
pekerjaan konstruksi.
Di
dalam melakukan survei, kuesioner dibagi menjadi 3 (tiga)
bagian terpisah sesuai karakteristik dari NVAA selama
proses konstruksi.
• Bagian pertama terdiri dari
pertanyaan yang berhubungan dengan frekuensi
dan dampak dari NVAA
pada proyek konstruksi.
• Bagian kedua mengenai penyebab
NVAA.
• Bagian terakhir, responden diminta
untuk memberikan komentar atas jawaban-jawaban yang telah
mereka berikan.
Hasil
Penelitian
Data
yang terkumpul, dianalisis dengan menggunakan Importance
Index. Important Index dihitung sesuai frekuensi dan dampak
dari variabel-variabel, dengan menggunakan formula sebagai
berikut:

Dimana:
I = Importance Index (Index Frekuensi)
ai = constant express the weight of the fifth response;
i = 1,2,3,4,5
xi = frekuensi dari jawaban yang diberikan sebagai prosentase
dari total
jawaban untuk masing-masing variabel
I = response category index, dimana i = 1,2,3,4,5
W = bobot tertinggi (5)
Untuk
mengidentifikasi berapa frekuensi waste terjadi, frekuensi
dibagi dalam lima kategori: 1. Tidak Pernah; 2. Jarang;
3. Kadang-Kadang; 4. Sering; 5. Selalu.
Sedangkan
untuk memberi skor tingkat dampak dari kategori waste
di bidang konstruksi, disediakan skala dari 1 (sangat
rendah) sampai 5 (sangat tinggi).
Dengan
menggunakan Index Frekuensi dan Index Dampak, maka variabel-variabel
dapat disusun peringkatnya guna identifikasi variabel-variabel
waste yang signifikan. Index Bobot dihitung dengan melakukan
penggandaan Index Frekuensi dengan Index Dampak. Hasilnya
dirangkum dan tertera pada Tabel 1 (Ranking Variabel-Variabel
Waste).
Kesimpulan
Dari
hasil penelitian ini (lihat Tabel 1, kolom Index Bobot)
menghasilkan peringkat pertama, kedua, ketiga dari variabel
NVAA adalah menunggu material, jadwal terlambat
dan skill tenaga kerja rendah.
Hasil
ranking tersebut di atas tidak berbeda jauh dengan penelitian
sebelumnya mengenai waste pada industri konstruksi umumnya,
terutama di Indonesia. Ketiga variabel waste tersebut
menghabiskan waktu, biaya dan sumber daya, tetapi tidak
memberikan nilai tambah pada proyek.
Dari
hasil penelitian ini pula terungkap bahwa walaupun ketiga
variabel waste tersebut dapat mengganggu kinerja proyek
secara signifikan, tetapi personel konstruksi tidak melakukan
evaluasi secara kuantitatif dan tidak melakukan dokumentasi
dengan baik. Evaluasi dan dokumentasi tersebut
perlu dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif dari
NVAA terutama ketiga variabel waste tersebut,
sehingga kinerja proyek dapat meningkat pada periode selanjutnya.
Hal ini dapat juga dijadikan referensi untuk penanganan
proyek selanjutnya, sehingga dapat mengantisipasi adanya
dampak negatif dari variabel waste sebelum proyek berjalan.
Daftar Pustaka
[1]
Alwi, S.; Hampson, K. and Mohamed, S. (2002). Factors
Influencing Contractor Performance in Indonesia: A Study
of Non Value-
Adding Activities.
Proceeding of APEC Construction 2002, Bali.
[2]
Alwi, S.; Hampson, K. and Mohamed, S. (2002).
Non Value-Adding Activities in Australian Construction
Project. Proceeding of APEC
Construction
2002, Bali.
[3]
Kerzner, H. (1998). Project Management-A System
Approach to Planning, Scheduling and Controlling, 6th
Edition. New York, John
Wiley &
Sons.
[4]
Project Management Institute (2000). A Guide
to the Project Management Body of Knowledge, 2000 Edition.
TABEL 1
RANKING VARIABEL-VARIABEL WASTE
No. |
Kategori
Waste |
Frekuensi |
Dampak |
Bobot |
| |
|
Index |
Rank |
Index |
Rank |
Index |
Rank |
| |
| Pekerjaan
Perbaikan: |
| Pada
pekerjaan struktur |
| Pada
pekerjaan pondasi |
| Pada
pekerjaan finishing |
| Pada
pekerjaan bekisting |
|
|
|
|
|
|
|
| |
| Waktu
Tunggu: |
| Menunggu
instruksi-instruksi |
| Menunggu
material |
| Menunggu
perbaikan alat-alat |
| Menunggu
datangnya alat di lokasi |
| Menunggu
kesediaan tenaga kerja |
|
|
|
|
|
|
|
| |
| Material: |
| Penghamburan
bahan mentah |
| Tidak
sesuai dengan spesifikasi |
| Kehilangan
material di lokasi |
| Penumpukan
material di lokasi |
| Sering
ada pemindahan material |
| Kerusakan
material di lokasi |
|
|
|
|
|
| |
0.14 |
0.31 |
0.22 |
0.42 |
0.23 |
0.28 |
|
|
| |
| Sumber
Daya Manusia: |
| Mutu
pengawasan rendah |
| Skill
tenaga kerja rendah |
| Tenaga
kerja / tukang menganggur |
|
|
|
|
|
|
|
| |
| Proses
Operasi: |
| Terjadinya
kecelakaan kerja |
| Peralatan
sering rusak |
| Peralatan
tidak bisa diandalkan |
| Jadwal
terlambat |
|
|
|
|
|
|
|
«
back
__________________________________________________________________________________________________________________